Prestasi, Partisipasi, dan Kesejahteraan Siswa Indonesia Berdasarkan Survei PISA

Writen by Adiyo Roebianto
04 December 2019

Prestasi, Partisipasi, dan Kesejahteraan Siswa Indonesia Berdasarkan Survei PISA

Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 sudah dirilis pada hari Selasa (3/12) kemarin. Berdasarkan hasil studi PISA tersebut, secara umum dapat dikatakan kemampuan siswa Indonesia dalam literasi membaca, kemampuan matematika, dan sains berada pada urutan bawah. Sebagai gambaran, skor membaca siswa Indonesia pada tahun 2018 sebesar 371, skor kemampuan matematika sebesar 379, dan terakhir skor sains siswa Indonesia untuk tahun 2018 sebesar 396. Skor ini jauh dibawah rata-rata yaitu sekitar 480an.

kompetensi membaca matematika sains Indonesia

Sebagai negara, kemampuan siswa Indonesia setara dengan negara – negara seperti Maroko, Libanon dan Arab Saudi. Sedangkan siswa di negara tetangga secara umum meraih hasil yang lebih baik, seperti contohnya Malaysia dan Thailand. Bahkan Singapura merupakan salah satu negara yang siswanya memiliki skor tertinggi kedua pada studi PISA 2018.

Hasil studi PISA 2018 bagi Indonesia sebetulnya bukanlah hal yang mengejutkan. Dikarenakan, selama masa keikutsertaannya sebagai negara peserta PISA sejak tahun 2000, dapat dikatakan Indonesia menghuni posisi 10 besar terbawah dari negara – negara yang mengikuti survei PISA. Jikapun ada perubahan pada skor siswa Indonesia, namun skor tersebut secara fluktuatif berubah sekitar 10 hingga 20 poin. Pada PISA 2015, skor membaca siswa Indonesia sebesar 397, skor kemampuan matematika sebesar 386 dan skor sains sebesar 403. Oleh karenanya, komponen skor siswa Indonesia pada ketiga bidang studi tersebut bukanlah barang baru dalam kajian benchmarking study seperti PISA.

Justru yang menarik dari studi PISA 2018 untuk siswa Indonesia adalah tingginya angka akses pendidikan di Indonesia pada usia 15 tahun. Pada tahun 2000, hanya ada 39% penduduk usia 15 tahun yang duduk di bangku sekolah, sedangkan pada tahun 2018, total ada 85% peserta didik yang berusia 15 tahun. Selama 15 tahun terdapat kenaikan sebesar kurang lebih 45% angka partisipasi sekolah pada usia 15 tahun. Atau dengan kata lain setiap tahunnya menaik sekitar 3% selama kurun waktu 2000 - 2018. Tentunya kenaikan ini perlu mendapatkan apresiasi, karena bertambahnya jumlah penduduk yang masuk ke dalam bangku formal sekolah. Selain itu, berdasarkan data BPS (sumber: https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1054), angka partisipasi sekolah di Indonesia untuk usia 13 – 15 tahun telah mengalami kenaikan sejak tahun 2011 hingga ke 2018 lalu.

Dalam hal ini, sudah terlihat kebijakan pemerintah seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) berjalan lancar dalam meningkatkan partisipasi anak untuk sekolah. Bahkan seharusnya dengan sistem zonasi pada penerimaan siswa baru bisa memberikan kesamarataan jumlah siswa sekolah di suatu daerah. Pada akhirnya akan menaikkan angka partisipasi siswa di level nasional. Meskipun demikian, hasil kebijakan ini dapat dirasakan dalam waktu 3 – 5 tahun mendatang.

Disamping itu, yang juga sangat menarik adalah siswa Indonesia merasa puas/bahagia dengan hidupnya. Hal ini tercermin dari tingginya angka student’s well-being siswa Indonesia dimana setidaknya terdapat 39% siswa Indonesia merasa sangat puas terhadap hidupnya. Sedangkan siswa yang menyatakan tidak puas dengan hidupnya hanya sekitar 12%. Skor rata – rata kesejahteraan siswa Indonesia sebesar 7.5 dari rentang 0 (terendah) sampai 10 (tertinggi). Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya siswa Indonesia optimis dalam menghadapi masa depannya meskipun mungkin akan menghadapi tantangan ataua bahkan kegagalan. Tetapi mereka tetap yakin akan masa depannya. Bahkan yang unik dari siswa Indonesia adalah skor kesejahteraan siswa yang latar belakang ekonominya kekurangan lebih tinggi dibandingkan skor kesejahteraan siswa yang latar belakang ekonominya berkecukupan. Dari 79 negara lainnya, kondisi demikian hanya terjadi pada siswa Indonesia.

Memang mutu pencapaian siswa Indonesia pada tiga bidang studi yaitu membaca, matematika dan sains masih jauh dari kata mencukupi. Setidaknya demikian berdasarkan studi PISA dari tahun 2000 hingga 2018, hal ini sudah berlangsung selama 18 tahun tanpa ada perubahan berarti. Namun demikian, secara kuantitas pelaku pendidikan, setidaknya mengalami kemajuan yang berarti. Bahkan diiringi dengan kemampuan resiliensi yang tinggi pada siswa Indonesia. Oleh karenanya, seharusnya hal ini menjadi modal awal yang baik dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Source :



Hai..
Anda Psikolog? Anda Pengajar?