Metode Tepat Membimbing Anak Raih Kesuksesan

Writen by Admin
19 August 2019

Metode Tepat Membimbing Anak Raih Kesuksesan

Kesuksesan seorang anak tak lepas dari didikan orangtuanya. Sayangnya, masih banyak orangtua yang mengambil arti paling sempit dari kesuksesan itu sendiri. Rata-rata masih menganggap bahwa anak baru bisa dibilang berhasil ketika mereka meraih nilai paling tinggi di kelas dan menjadi juara.

Hal tersebut tidaklah salah, tetapi juga tidak bisa menjadi satu-satunya patokan kesuksesan seorang anak. Orangtua harus memahami bahwa setiap anak dilahirkan dengan bakat serta potensi uniknya masing-masing.

Ada banyak contoh sukses yang datang tidak hanya dari dunia akademik saja. Misalnya, Susi Susanti yang mengharumkan nama Indonesia lewat berbagai kemenangan dalam olahraga bulutangkis. Atau, Bob Sadino sang pebisnis legendaris yang berhasil di bidang pangan dan peternakan.

Cara orangtua membimbing dan mengasah potensi anak merupakan kunci kesuksesan mereka yang sebenarnya. Ambil contoh keberhasilan metode asuh yang diterapkan oleh keluarga Esther Wojcicki, seorang jurnalis dan pendidik asal Amerika Serikat.

 

Metode asuh yang Esther terapkan pertama kali menjadi sorotan Forbes ketika dua putrinya masuk dalam daftar Self-Made Women versi majalah tersebut. Cara didiknya kemudian menjadi perbincangan dan model pembelajaran para orangtua di Amerika. Esther dinilai berhasil membesarkan anak-anak yang meraih kesuksesan pada bidangnya masing-masing.

Tidak main-main. Anak pertama Esther, Susan Wojcicki adalah CEO YouTube pada 2014. Janet Wojcicki sang putri kedua merupakan seorang Profesor Ilmu Antropologi Kedokteran di University of California Los Angeles. Sementara, si bungsu Anne Wojcicki ialah pendiri perusahaan bioteknologi, 23andMe.

Metode asuh Esther sebenarnya sederhana dan muda dilakukan oleh semua orang tua. Sejak Susan, Janet, dan Anne kecil, ia telah membiasakan mereka menjadi pribadi mandiri. Ibu satu ini meyakini bahwa anak yang bisa mengendalikan diri dan bertanggung jawab atas diri mereka akan tumbuh lebih terampil menghadapi tantangan kehidupan.

 

Terbiasa mandiri membuat anak punya kemampuan untuk berinovasi serta berpikir kreatif. Terlebih ketika berada dalam masalah pelik, bersinggungan dengan perbedaan, atau saat terjebak rasa bosan. Anak mandiri tidak mudah goyah dan menyerah walau kondisi hidup di sekelilingnya sedang tidak baik.

Dalam membesarkan ketiga putrinya, Esther juga menanamkan kepercayaan penuh dalam berbagai aspek kehidupan. Poin ini berbeda dengan orangtua pada umumnya. Orangtua sering ragu-ragu membiarkan anak mengambil keputusan, menanggung risiko, serta membela diri.

 

Padahal, kepercayaan dari orangtua ialah hal yang membuat anak dapat belajar dan tumbuh menjadi dirinya sendiri. Ekstrem membatasi anak dapat membuat mereka tumbuh dalam ketakutan. Anak pun akan cenderung bergantung pada orangtua hingga usia dewasa.

Sejatinya, orangtua yang memberikan kepercayaan pada anak turut menumbuhkan kedekatan serta membuka jalinan kerja sama dalam keluarga. Anak dapat lebih mudah membuka diri terhadap aturan yang ada dalam kehidupan berkeluarga. Selain itu, anak juga tidak segan untuk berdiskusi serta berkomunikasi jika menemukan hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman.

Menghargai anak sebagai seorang individu dengan kebebasan bersikap adalah hal paling fundamental yang sebaiknya orangtua lakukan. Bagaimanapun, membesarkan generasi muda kekinian tidak bisa disamakan dengan cara didikan orangtua terdahulu.

 

Perkembangan zaman dan teknologi membuat anak mampu berpikir lebih kritis. Orangtua tidak lagi bisa sekadar menyuruh-nyuruh saja dan memaksa anak menuruti seluruh kehendak orangtua.

Satu aspek utama yang Esther sadari dalam mendidik anak-anaknya adalah pentingnya memahami potensi mereka sedini mungkin. Hal ini relevan dalam menentukan metode pendidikan yang tepat bagi setiap anak. Sebagai catatan, anak cenderung lebih mudah menerima dan memproses pengetahuan yang diberikan bila mereka merasa nyaman dengan lingkungan belajarnya.

 

Memahami potensi anak-anak bisa dimulai dengan melihat perilaku mereka. Perhatikan kecenderungan ketika anak menikmati aktivitas tertentu dan adanya keinginan untuk mengulangi kegiatan itu.

Orangtua juga bisa menilik lebih jauh keunggulan yang dimiliki anak dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Ada baik juga anak diberikan mengeksplorasi berbagai pilihan kegiatan untuk menemukan hal yang mereka sukai.

Jika ingin lebih akurat, orangtua dapat mengajak anak untuk mengikuti tes kecerdasan, seperti AJT Cogtest milik PT Melintas Cakrawala Indonesia. Tes ini memberikan profil kecerdasan kognitif anak disertai rekomendasi psikologi agar orangtua mudah melakukan pendekatan pada anak-anak serta memahami metode pembelajaran yang efektif untuk mereka.

 

Orangtua dapat membantu anak memaksimalkan kelebihan dan memperbaiki kekurangannya. Informasi yang komprehensif mengenai kecerdasan kognitif anak tidak hanya berguna sebagai acuan pendidikan di rumah, tetapi juga mempengaruhi proses pembelajaran anak di sekolah.

Anak juga bisa mulai dibimbing untuk mulai menentukan arah kehidupannya. Sesungguhnya, potensi yang ada pada diri anak-anak sejak kecil dapat menjadi cerminan akan berbagai bidang profesi yang sesuai di masa depan mereka.

Keterlibatan serta sikap proaktif orangtua untuk kesuksesan anak tidak bisa dianggap sepele. Alih-alih mendikte anak tumbuh mengikuti ambisi orangtua, sebaiknya dukung mereka menggali serta mengasah potensinya dengan optimal. Layaknya metode pendidikan keluarga Wojcicki, dengan sendirinya kesuksesan pun dapat diraih.

Source : http://time.com/5578064/esther-wojcicki-raise-successful-kids/



Hai..
Anda Psikolog? Anda Pengajar?