Baca Komik Pengaruhi Kecerdasan Anak, Benarkah?

Writen by Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si
17 May 2019

Baca Komik Pengaruhi Kecerdasan Anak, Benarkah?

baca komik

Membaca komik seringkali dianggap sebagai kegiatan rekreasi. Banyak orangtua melarang anak-anak membaca komik karena dinilai tidak produktif dan tidak punya sisi edukatif. Sebagian besar menganaktirikan literatur ini, kemudian lebih menyarankan agar anak membaca buku non-fiksi atau fiksi sastra.

 

Padahal, anggapan di atas dengan mudah dipatahkan oleh studi Anne E. Cunningham dan Keith E. Stanovich yang dilansir oleh California State University, Northridge pada 2001. Penelitian itu menyebutkan, komik justru memiliki pengaruh besar untuk meningkatkan kecerdasan anak.

 

Cunningham dan Stanovich menyatakan, komik menyisipkan berbagai kosakata langka dan sulit dalam dialognya. Pemakaian bahasa kelas tinggi ini terhitung dua kali lipat lebih banyak daripada diksi yang digunakan mahasiswa saat berkomunikasi sehari-hari. Selain itu, komik mengajarkan bahasa yang lebih kompleks dibandingkan buku cerita anak-anak.

 

Manfaat membaca komik dialami sendiri oleh Dan Hurley, penulis dan jurnalis New York Time. Hurley, dalam tulisannya untuk The Guardian (2014), bercerita mengenai kesulitan belajar yang ia alami semasa kecil. Seorang guru bahkan memasukkan ia dalam kategori anak yang lambat dalam menyerap proses pembelajaran dan membutuhkan perhatian khusus di sekolah.

 

Namun, hidup Hurley mulai berubah ketika sahabat dekatnya mengenalkan pada komik Spiderman. Sekali membaca, ia merasakan bagai menemukan sebuah minat baru. Hurley pun banyak menghabiskan waktu untuk mengulik beragam komik lainnya. Ia kemudian tidak hanya sekedar ingin menjadi pembaca, tetapi juga tergugah untuk menulis dan menggambar komiknya sendiri.

 

Di usia 11 tahun, Hurley merasakan perubahan besar dalam bidang akademis. Kemampuan belajarnya meningkat pesat. Ia mulai menuai prestasi dan meraih nilai rata-rata A dalam setiap pelajaran. Menjelang masa perkuliahan, Hurley mengikuti tes masuk universitas, ia lalu terkejut karena memperoleh skor tes IQ yang tinggi atau setara 136 poin.

 

Sebenarnya, membaca buku bergenre fiksi apa saja sama-sama ampuh membantu meningkatkan kinerja otak. Pada level terdasar, membaca buku fiksi mempengaruhi crystallized intelligence manusia atau kemampuan untuk menyelesaikan masalah berdasarkan pengalaman, pendidikan, serta budaya.

 

Semakin banyak buku yang dibaca, maka semakin bertambah pula informasi yang dikumpulkan seseorang. Bank data pada otak manusia ini yang nantinya akan membantu seseorang berkembang dan menemukan tujuan hidup. Selain itu, membaca tentu saja juga menambah tabungan kosakata, gramatika, serta kepandaian berbahasa lainnya.

 

Membaca buku fiksi juga melatih fluid intelligence, yaitu kecakapan seseorang mengidentifikasi serta menyelesaikan masalah. Kisah-kisah dalam buku fiksi menyuguhkan beragam konflik yang lebih kurang sama dengan kehidupan. Banyak membaca dapat memancing otak manusia lebih cepat mengerti pola dalam sebuah permasalahan dan menghubungkannya untuk segera mendapatkan solusi.

 

Terlebih, memahami konflik pada tokoh-tokoh di dalam cerita juga mampu menumbuhkan emotional intelligence yaitu kemampuan memahami, menerima serta mengontrol emosi di dalam diri sendiri dan orang lain. Korelasi ini dibuktikan oleh David Commer Kidd dan Emanuele Castano dalam penelitian mereka di New School for Social Research New York. Studi Kidd dan Castano membandingkan tingkatan empati pembaca buku non-fiksi dan penggemar buku fiksi.

 

Hasilnya, pembaca buku fiksi dinyatakan mempunyai kecerdasan emosional paling tinggi. Pasalnya, ada pergerakan dan sensasi tertentu pada syaraf otak manusia yang membuat alam bawah sadar menempatkan diri untuk merasakan konflik serta kondisi yang dialami karakter-karakter dalam buku fiksi.

 

Proses serupa terjadi saat kita mencoba memahami orang lain di dunia nyata. Maka tak heran, mereka yang banyak membaca buku fiksi dapat lebih berempati pada beragam masalah yang dihadapi dalam kehidupan, baik bagi diri sendiri juga orang lain.

 

Contoh nyata terjadi pada Barack Obama. Presiden Amerika Serikat ke-44 ini sempat menyatakan kegemarannya membaca komik dalam sebuah surel kampanye pada 2008. Menurut Obama, selayaknya setiap karakter utama komik yang memiliki cerita asal, setiap orang, termasuk kita sendiri, memiliki latar belakang kisah yang sebaiknya dipahami. Tersirat, ia menuliskan bahwa komik mengajarkannya untuk berempati karena setiap orang memiliki kesulitan hidup masing-masing.

 

Secara spesifik bagi anak-anak, membaca komik punya nilai plus yang tidak ditemukan pada jenis buku fiksi lainnya. Komik menyajikan kisah dalam kata yang disertai visualisasi gambar dan warna. Secara alamiah, otak manusia sendiri lebih mudah menangkap sesuatu yang bergambar karena membuat sebuah penjelasan menjadi gamblang dan efek warna membentuk segala sesuatu terasa lebih hidup.

 

Dialog dalam komik pun tidak menggunakan kalimat panjang yang rumit. Setiap keadaan punya ilustrasi. Hal ini tentu memudahkan anak-anak mengerti jalan cerita yang disuguhkan. Mereka tidak perlu merasa terintimidasi akan detail deskripsi yang hanya bisa digambarkan melalui tulisan berparagraf panjang seperti pada novel.

 

Tokoh-tokoh komik juga lebih familiar untuk anak-anak. Hal ini karena kebanyakan komik sudah diadaptasi dalam serial televisi, film populer atau video game. Jika kita ingin anak jatuh cinta pada buku, tidak ada salahnya jika memulai dari hal-hal yang sudah mereka ketahui dan sukai.

 

Nilai kegembiraan yang didapat saat seorang anak membaca komik dipercaya pula bisa menumbuhkan rasa penasaran pada variasi bacaan lainya. Seiring berjalannya waktu, kegemaran ini menjadi peluang agar mereka terbiasa membaca hingga dewasa. Layaknya Dan Hurley, besar kemungkinan anak yang suka membaca komik akan lebih terbuka untuk membaca berbagai jenis buku, baik fiksi maupun non-fiksi, terlebih menjadi menulis ceritanya sendiri.

 

Jadi, ada baiknya jika orangtua lebih membuka pikiran untuk membebaskan anak-anak memilih buku yang mereka sukai. Tidak ada salahnya mengarahkan anak pada beragam variasi literatur dunia, seperti buku-buku karangan Enid Blyton, Andrea Hirata, atau bahkan seorang Stan Lee. Bagaimanapun, setiap langkah besar dimulai dari pijakan-pijakan kecil yang menjadi sebuah kebiasaan.

 

Source :



Hai..
Anda Psikolog? Anda Pengajar?