Dampak Jika Anak Dipisahkan dari Orangtuanya Menurut Teori Kelekatan (Attachment Theory)

Posted by Cloudida

25 June 2018

Apa Yang Terjadi Jika Anak Dipisahkan dari Orangtuanya?

Di pertengahan bulan Juni ini dunia dikejutkan dengan berita dari negara Amerika Serikat soal kebijakan batas negara yang berujung pada tindakan pemisahan anak-anak dari orangtuanya yang berstatus imigran gelap. Hal ini menarik perhatian para psikolog menyuarakan dampak negatif yang akan timbul atas tindakan tersebut.

Perpisahan dengan orang yang dicintai secara paksa merupakan mimpi buruk bagi setiap orang, terlebih pada anak di usia yang belum dewasa. Dikutip dari artikel Time, Asosial Psikolog Amerika menyebutkan kemungkinan-kemungkinan dampak psikologis seperti depresi, kecemasan, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), kecenderungan perilaku kekerasan, dan kesulitan dalam bersosialisasi.

Pada teori kelekatan (attachment theory) oleh John Bowlby dijelaskan pentingnya kehadiran orangtua secara fisik terhadap perkembangan kognisi, emosi, serta sosial pada anak. Ketika anak-anak berpisah dengan pengasuhnya (orangtua), mereka akan mengalami penderitaan yang hebat meskipun terdapat pengasuh pengganti. Keberadaan pengasuh pengganti tidak mampu menghilangkan rasa cemas dan stres yang dialami oleh anak. Jarak yang tercipta antara anak dengan orangtua tidak hanya disebabkan oleh perpisahan yang terjadi karena faktor eksternal. Tidak jarang hubungan anak dan orangtua terganggu oleh faktor internal yang datang dari kurangnya pengetahuan orangtua dalam mendidik anak, trauma bawaan orangtua, atau bahkan ketidaksiapan menjadi orangtua.

Bowlby menyatakan dalam teori kelekatannya (attachment theory) bahwa hubungan kelekatan di awal masa kehidupan anak merupakan prototipe untuk semua hubungan sosial di masa depan anak sehingga gangguan kelekatan yang terjadi dalam masa itu memiliki konsekuensi yang sangat berat. Usia 0 sampai dengan 5 tahun merupakan periode kritis pentingnya perkembangan keterikatan atau kelekatan anak pada pengasuhnya. Jika pada usia tersebut anak mengalami peristiwa yang menyebabkan terganggunya kelekatan dengan orangtuanya, seperti perilaku abai, perceraian orangtua, kematian, dan pemisahan secara paksa yang saat ini terjadi pada imigran gelap di Amerika Serikat dikhawatirkan akan mempengaruhi kecerdasan serta perilaku agresif anak hingga usia dewasa.

Penelitian mengenai hubungan antara anak dengan orang tua lebih lanjut mengklasifikasi 4 pola kelekatan:

 

  • Kelekatan yang aman (Secure attachment)

Anak-anak yang memiliki kelekatan baik dengan orangtuanya akan memiliki pandangan positif terhadap orang lain serta memandang dirinya sendiri berharga sehingga anak-anak ini memiliki kepercayaan diri untuk meraih keberhasilan dalam hidupnya. Tipe pola ini merupakan kondisi ideal hubungan kelekatan yang didapat oleh anak dengan orangtuanya.

 

  • Kelekatan yang bersifat menghindar (Anxious avoidant attachment)

Anak-anak dengan pola kelekatan ini seringnya akan menghindari interaksi sosial seolah-olah tidak membutuhkan orang lain dalam hidupnya, menarik diri dari pergaulan, serta menolak meminta bantuan orang lain atau menjaga jarak. Perilaku “kemandiriannya” tersebut merupakan upaya anak dalam berjaga-jaga kemungkinan terjadinya stres yang pernah menimpa dirinya saat membuka diri terhadap orang lain. Gangguan perkembangan kelekatannya yang dialami biasanya berupa penolakan dari orangtua di masa kecilnya.

 

  • Kelekatan yang bersifat penolakan (Anxious resistant attachment)

Bertolak belakang dengan pola kelekatan menghindar (anxious avoidant attachment), anak dengan pola ini justru sangat bergantung pada pengasuh utamanya dan memiliki kepercayaan diri yang rendah. Hal ini terjadi sebagai bentuk kurangnya kelekatan terhadap orangtua di masa kecilnya. Tidak jarang individu ini akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah marah, cemburu, penuntut, dan bergantung pada orang lain.

 

  • Kelekatan yang tak beraturan (Disorganized attachment)

Pola ini merupakan campuran atau ambivalen. Anak dengan pola kelekatan ini terkadang melihat orang lain sebagai ancaman sehingga menimbulkan perilaku-perilaku agresif-defensif. Biasanya anak dengan pola ini tumbuh di lingkungan keluarga yang lazim dengan tindakan kekerasan. Alih-alih mendapatkan kasih sayang dari orangtua, upayanya mencari afeksi justru membuatnya menerima perilaku kasar atau bahkan pukulan. Anak akan tumbuh dewasa menjadi individu yang pada umumnya cepat mengalami perubahan suasana hati, satu waktu ia merasa cemas sangat ingin disayangi namun berubah merasa tidak pantas disayangi. Hal ini berdampak pada sulitnya mereka membangun suatu hubungan yang sehat dengan orang lain.

Dari teori kelekatan (attachment theory) ini sangat jelas pentingnya peranan orangtua dalam membesarkan anak dan menghasilkan individu-individu yang sehat secara psikologis. Ketika Anda sebagai orangtua menemukan adanya perilaku anak yang menunjukkan hal negatif, segera cari pertolongan atau konsultasikan dengan pihak profesional yang dapat membantu.

Source :