Fenomena Pelajar Bunuh Diri Dalam Pandangan Psikologi

Posted by Cloudida

28 May 2018

Fenomena Pelajar Bunuh Diri Karena Stres Menghadapi Ujian Kelulusan Sekolah Dalam Pandangan Psikologi

Membaca tajuk utama berita di media online beberapa hari ini soal pelajar bunuh diri karena stres menghadapi ujian kelulusan sekolah dan yang baru saja terjadi pelajar SMP di Blitar nekat gantung diri. Fenomena membuat sebagian orangtua menjadi khawatir menyekolahkan anaknya. Banyak yang beranggapan bahwa hal ini terjadi karena kelemahan sistem pendidikan sekolah di Indonesia.

Namun sebenarnya apakah benar fenomena ini terjadi karena buruknya sistem pendidikan di Indonesia? Untuk mengetahui hal itu kami melakukan wawancara langsung dengan psikolog pendidikan, Ibu Reinita Koestomo, M.Psi., Psikolog.

Pertanyaan (MCI)            : Sebagai psikolog pendidikan, pendapat Ibu apakah kurikulum atau sistem pendidikan yang saat ini diterapkan di sekolah umum belum mengakomodir kebutuhan belajar anak?

Jawaban (Rei)                    : Pada dasarnya kurikulum (2013) sekarang ini cukup mengakomodir kebutuhan belajar, terutama secara akademis. Namun perlu juga dipahami bahwa banyak sekolah yang menyediakan mata pelajaran tambahan atas dasar kebutuhan dan minat pasar. Dalam arti, perkembangan zaman juga turut menentukan mata pelajaran yang dapat dijadikan daya tarik bagi sekolah. Hal ini pula yang menjadi pertimbangan orangtua di kemudian hari ketika memilihkan sekolah bagi anak-anak mereka. Mengacu pada kasus tersebut, ada sumber yang mengatakan bahwa anak tersebut mengalami kesulitan pada salah satu mata pelajaran tertentu. Sebenarnya, kembali lagi pada tuntutan dan harapan yang ia terima dari lingkungannya, sehingga peristiwa ini tidak semata-mata terjadi karena materi pelajaran itu sendiri.

 

MCI        : Adakah tanda pada seorang anak yang mengalami depresi terhadap sekolahnya atau sinyal untuk orangtua bahwa anak sedang butuh pertolongan mental? Mengingat banyak orangtua sekarang yang memiliki waktu terbatas dengan anak karena kesibukan kerja.

Rei          : Tanda-tanda utama adanya depresi yang perlu menjadi perhatian adalah ketika anak mulai menarik diri dari pergaulan dan kehilangan minat pada hal-hal yang sesungguhnya mereka sukai. Mereka menjadi murung, mudah merasa sedih dan putus asa, tetapi juga merasa tidak berharga. Banyak remaja saat ini yang merasa tidak mempunyai teman sepermainan, teman akrab atau sekadar teman yang mau duduk bersama mereka ketika jam makan siang. Mereka mengeluhkan bahwa teman-teman di sekolahnya tidak ada yang menyukainya ataupun mau bergaul dengan mereka. Tetapi tanda-tanda ini seringkali juga muncul dalam bentuk malas pergi sekolah, kurangnya motivasi dan konsentrasi sehingga prestasi sekolah merosot terutama bagi anak-anak yang sedianya berprestasi.

Serta adanya perubahan pada pola makan yang dimulai dengan mengurangi jumlah asupan sampai menolak makan. Pada kasus-kasus ekstrem, ide-ide akan kematian dan perilaku bunuh diri tidak lagi sekadar menjadi isi pikiran mereka, tetapi pola pikir yang tidak rasional membuat mereka nekat mencoba dan melakukan ide tersebut.

 

MCI        : Hal apa yang harus dilakukan oleh orangtua ketika anak mengalami stres atau depresi terhadap kegiatan di sekolah?

Rei          : Yang pertama dan terutama perlu dilakukan adalah, kenali anak Anda! Orangtua diharapkan dapat secara jelas mengetahui adanya perubahan yang terjadi pada anak-anak, seperti misalnya nafsu makan berubah, nilai-nilai sekolah merosot maupun hal kecil lainnya. Jangan pernah hiraukan cara mereka meminta bantuan (silent call for help), seperti misalnya bergurau tentang melakukan bunuh diri atau kata-kata yang mengatakan “Seandainya saja saya tidak pernah dilahirkan”, “Akan lebih baik jika saya tidak ada” dan lainnya. Tingkatkan komunikasi dengan anak Anda, dengarkan cerita-cerita yang mereka sampaikan. Ketika mendengarkan, pastikan orangtua hadir sepenuhnya untuk memahami apa yang menjadi dan bukan untuk memberikan penilaian, menghakimi ataupun menyepelekan permasalahan. Yakinkan anak-anak bahwa Anda sebagai orangtua akan selalu dan sepenuhnya ada bagi mereka, dan tentunya tanpa syarat.

Orangtua juga diharapkan untuk dapat mendekati anak dengan lembut namun gigih. Penolakan dari anak seringkali terjadi, terutama karena mengkomunikasikan kondisi depresi mereka adalah satu hal yang sangat sulit. Tidak hanya itu, mengekspresikan perasaan juga bukanlah hal yang mudah. Orangtua diharapkan untuk dapat tetap memperhatikan kenyamanan anak dalam bercerita tanpa melupakan keprihatinan dan keinginan tulus untuk mendengarkan keluh kesah mereka.

Penting bagi orangtua untuk dapat mengakui dan menerima apa yang dirasakan oleh anak-anak, sehingga mereka tahu bahwa perasaan tersebut nyata dan merasa bahwa mereka diterima dan dimengerti, terutama oleh orang-orang terdekatnya.

Ketika orangtua merasakan adanya perubahan, mereka diharapkan untuk dapat semakin merangkul anak-anak. Tidak sekadar mengontrol mereka dan mengatakan segalanya akan baik-baik saja, tapi pahami apa yang mereka hadapi dan dampingi mereka menghadapi masalah tersebut. Jika anak enggan bersikap terbuka pada orangtua, jangan pernah ragu untuk meminta bantuan orang lain. Dapat dimulai dari guru-guru di sekolah, bahkan bantuan profesional seperti psikolog ataupun konselor.

 

MCI        : Apa yang dapat dilakukan oleh orangtua dan tenaga pendidik untuk menghindari terjadinya depresi yang berujung fatal terhadap anak?

Rei          : Komunikasi terbuka antar orangtua dan anak yang hangat sangatlah penting. Orangtua (dan guru) diharapkan dapat menumbuhkan rasa aman dan nyaman pada anak. Selain itu, orangtua dan guru diharapkan dapat melatih mereka beraktivitas dan menghadapi kesulitan tertentu secara mandiri. Seringkali orang dewasa merasa mudah kasihan pada anak-anak ketika mengalami kendala dan cenderung menyelesaikan persoalan tersebut bagi mereka. Meski bermaksud baik, perlu diingat bahwa hal ini tidak akan membantu anak menjadi dewasa dan tahan terhadap tantangan. Hak istimewa yang berlebihan juga tidak mempersiapkan anak pada situasi nyata diluar zona nyaman mereka, misalnya seperti menyediakan segalanya untuk anak sebelum mereka membutuhkannya.

Selain itu, orangtua dan guru juga diharapkan dapat menyesuaikan target dan tuntutan bagi anak. Mereka tidak harus sempurna pada seluruh mata pelajaran ataupun bidang minat yang mereka tekuni. Tetapi sadari kekuatan dan kelemahan anak, serta apa yang menjadi kebutuhan mereka terutama dalam belajar. Seperti misalnya ketika anak telah berhasil mencapai angka 80, mereka akan tetap mendapatkan harapan dan tuntutan untuk mencapai nilai 90 bahkan 100. Seringkali kita menganggap anak mampu mencapai lebih baik lagi, meski selama ini mereka telah berusaha sekeras mungkin. Namun dalam kasus demikian, pencapaian nilai sempurna (100) bukanlah indikasi keberhasilan yang tepat, tetapi cenderung menjadi “tolok ukur” dari kasih sayang orangtua pada anak.

Relasi yang baik antara anak dengan orangtua dan guru menjadi penting. Tumbuhkan rasa empati pada anak, dengan membantu mereka melatih kepekaan atas kebutuhan orang lain dan tidak terfokus pada apa yang menjadi kebutuhan diri sendiri. Izinkan mereka untuk sesekali ‘beristirahat’ dari harapan dan tuntutan lingkungan dan memberikan ruang untuk menjadi diri mereka sendiri. Berikan kesempatan pada mereka untuk belajar dari kesalahan. Orangtua dan guru diharapkan dapat mendampingi anak dalam mengevaluasi kesulitan dan kegagalan yang mereka alami tanpa adanya penilaian. Bantu mereka mempelajari strategi dimana motivasi dan daya juang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu serta memahami bahwa kegagalan tidak menjadi akhir dari usaha tersebut. Melainkan melihat kegagalan sebagai peluang untuk terus memperbaiki diri.

Dalam menghadapi anak remaja, seorang guru ataupun orangtua upayakan memposisikan dirinya sejajar, bukan layaknya orang dewasa yang menggurui karena hal itu justru akan memunculkan pertahanan diri atau penolakan dari seorang anak. Terlebih kepada anak usia remaja atau tingkat SMP yang sedang dalam masa peralihan anak-anak ke dewasa, mereka biasanya butuh diperlakukan layaknya seorang teman dengan begitu mereka akan lebih terbuka dan menerima nasihat.

Yang juga penting untuk diperhatikan adalah bahwa anak belajar melalui modelling. Mereka akan melihat apa yang orang dewasa disekitar mereka lakukan ketika menghadapi persoalan. Oleh karenanya, penting agar orangtua dan guru untuk memberikan panutan yang tepat bagi mereka. Libatkan emosi dalam percakapan sehari-hari, sehingga mereka memahami beragam emosi yang mereka rasakan, mengetahui bahwa emosi tersebut nyata dan dapat diterima serta bagaimana mengekspresikanya dengan tepat.

Satu ungkapan yang saya rasa tepat pada kesempatan ini adalah: “We do disservice when we step in so soon so they never experience making mistakes. In fact, children learn more when we allow them to make mistakes; it’s all in how we teach them how to handle it.” (Dari “8 Ways to Help Your Students Build Resiliency”).

Source :